1. PERKENALAN
Fase ini merupakan fase yang paling
minim tingkat keintimannya (baca:
keakrabannya). Di sini, seseorang mulai
mengetahui satu dengan yang lainnya.
Yang diketahui biasanya hal yang sangat
umum dan hanya kulit luarnya, seperti
nama, nomor telpon atau pekerjaannya.
Fase ini belum melibatkan emosi sama
sekali. Baru tahap saling kenal dan
saling tahu. Tapi fase ini amat penting
karena merupakan pintu gerbang menuju
fase selanjutnya.
2. PERTEMANAN
Jika pribadi-pribadi yang telah saling
mengenal, mulai menjalin komunikasi
dengan lebih sering. Kontak telpon, sms,
maupun pertemuan dengan frekuensi yang
semakin sering. Mulai timbul rasa saling
memiliki di antara mereka yang menjalin
pertemanan itu serta rasa solidaritas
atau rasa senasib sepenanggungan mulai
muncul. Walaupun milik masih diakui
sebagai milik masing-masing pribadi,
namun keinginan untuk berbagi juga sudah
mulai tumbuh serta emosi mulai terlibat.
3. PERSAHABATAN
Fase ini terjadi ketika pribadi-pribadi
yang telah berteman, merasa cocok
sehingga terjalin hubungan yang lebih
akrab. Dalam fase ini ikatan emosi
menjadi lebih dekat lagi. Keakraban dan
keintiman menjadi semakin tinggi. Saling
membutuhkan menjadi kata kunci di sini.
Fase ini ditandai dengan perilaku saling
dukung dan saling mempengaruhi. Curhat
mulai dilakukan pada fase ini.
4. KEAKRABAN
Fase ini terjadi bila seseorang mulai
melibatkan sahabatnya dalam
bagian-bagian penting dari kehidupannya.
Seperti saat pengambilan keputusan, atau
ketika sedang menghadapi masalah. Curhat
menjadi semakin sering, karena mereka
semakin bergantung satu sama lain.
Dua orang sahabat yang telah mencapai
fase keakraban, bisa lebih akrab
daripada saudara kandung. Sedikit demi
sedikit dua orang yang bersahabat itu
berani membuka topengnya kepada
sahabatnya. Mereka saling percaya dan
saling menjaga rahasia sahabatnya.
5. TERTARIK
Dalam fase ini, dua pribadi yang
berlainan jenis kelamin, mulai merasa
ada perasaan yang berbeda. Kalau tadinya
dalam pergaulan antar teman perhatian
diberikan kepada banyak orang, sekarang
perhatian menjadi lebih khusus kepada
seseorang yang menarik perhatiannya. Apa
yang dia sukai mulai menjadi kesukaannya
juga.
6. NAKSIR
Lebih lanjut dari fase tertaRik,
seseorang mulai naksir, mulai ingin
memiliki sahabat dari jenis kelamin yang
berbeda dan mulai memperhatikan lebih
dalam. Mulai tumbuh rasa ingin memliki
secara pribadi sosok yang ditaksir itu.
Kikuk dan nervous adalah gejala umum
berada di dekat orang yang ditaksirnya.
Perasaan gelisah dan selalu memikirkan
dia, serta rasanya ingin selalu dekat
dengan orang yang ditaksir. Fase ini
adalah tahap awal munculnya perasaan cinta.
7. PENDEKATAN
Ketika rasa tertarik dan naksir menjadi
semakin kuat dorongannya, dimulailah
sebuah action yang disebut PDKT.
Biasanya pada fase ini mulailah
seseorang memberi perhatian yang
berlebih maupun hadiah-hadiah pada lawan
jenis yang diincarnya. Mulai dicari-cari
cara agar bisa terus berdekatan dengan
sang pujaan hati. Kadang fase ini
diramaikan dengan munculnya mak
comblang atau para supporter yang
membuat proses PDKT menjadi lebih mulus
atau lebih seru.
8. PACARAN
Setelah sukses melewati masa pendekatan
dan mendapat lampu hijau dari sang
pujaan hati, maka babak selanjutnya
memasuki fase berpacaran. Ciri utama
fase ini adalah bahwa hubungan antara
dua insan berlainan jenisi itu sedikit
banyak telah memiliki sebuah komitmen.
Komitmen yang intinya kesepakatan bahwa
kamu hanya milikku dan aku juga hanya
milikmu! Mulai muncul perasaan
"posesif" (perasaan memilki yang kuat)
pada pasangannya.
Secara sederhana fase pacaran dapat
dibagi menjadi 3 tahapan:
a. Pre-date : masa awal pacaran
b. Dating : tahap penjajakan
c. Engagement : masa pertunangan,
persiapan menuju perkawinan.
9. PERKAWINAN
Inilah puncak dari segala tingkatan
pergaulan dan relasi antar lawan jenis.
Setelah melewati masa pacaran dengan
baik, maka pasangan manusia yang saling
mencintai itu mengikrarkan janji suci
untuk sehidup semati baik dalam sehat
maupun dalam sakit, dalam keadaan kaya
atau miskin, dan hanya maut yang bisa
memisahkan mereka. Dengan ikrar suci
pernikahan itu, mereka bukan lagi dua
tetapi telah menjadi satu.
Fase ini memulai sebuah babak baru,
relasi yang ditandai dengan munculnya
komitmen tanpa syarat untuk saling
mencintai dan memilki.